Beberapa waktu lalu saya harus memeriksa satu PC bermasalah di lokasi proyek milik customer kami. Bukan pemeriksaan sepuluh menit. Gejala kerusakannya hanya muncul sesekali dan rentang waktunya bervariasi, jadi saya harus memakai PC itu seharian penuh sambil menunggu masalahnya kambuh.
Masalahnya, sepanjang hari itu saya tetap butuh akses ke email dan WhatsApp saya sendiri. Artinya saya harus login akun pribadi di komputer yang bukan milik saya, di kantor orang lain, lalu meninggalkan komputer itu lagi dalam keadaan sebersih mungkin.
Pilihan pertama yang terpikir jelas incognito. Tapi saya ragu, karena incognito tetap berjalan di dalam profil Chrome milik pemilik komputer. Setelah saya telusuri, ada satu pilihan lain yang lebih bersih dan jarang dipakai orang, yaitu mode tamu Chrome. Itu yang akhirnya saya pakai seharian di sana.
Supaya jujur sejak awal: riset awalnya saya mulai dengan bertanya ke AI, lalu setiap klaimnya saya cek ulang ke halaman bantuan resmi Google dan ke layar Chrome di depan saya sendiri. Semua tangkapan layar di bawah ini dari laptop saya.
Letak keduanya berbeda, itu sebabnya mode tamu jarang ketemu
Incognito gampang dicari karena ada di menu utama. Klik tiga titik di pojok kanan atas, lalu pilih New Incognito window. Pintasannya Ctrl + Shift + N.

Mode tamu tidak ada di menu itu. Letaknya di tempat lain, yaitu ikon profil di sebelah kiri tiga titik. Klik ikon itu, lalu di bagian bawah ada pilihan Open Guest profile.

Buat saya ini penyebab utama kenapa banyak orang tidak tahu mode tamu ada. Dua fitur yang tujuannya mirip, tapi disimpan di dua tempat yang berbeda.
Baca dulu apa yang dijanjikan masing-masing layar
Sebelum percaya artikel mana pun, termasuk tulisan ini, layar pembuka kedua mode itu sebenarnya sudah menjelaskan batasannya sendiri. Saya baca dulu keduanya.

Di layar incognito, Chrome menyatakan tidak menyimpan riwayat browsing, cookie dan data situs, serta isian formulir. Tapi di kalimat yang sama Chrome juga mengaku bahwa unduhan, bookmark, dan daftar bacaan tetap disimpan. Di kolom sebelahnya ada daftar siapa saja yang tetap bisa melihat aktivitas kita: situs yang dibuka, kantor atau sekolah, dan penyedia internet.

Layar mode tamu bunyinya berbeda. Halaman yang dibuka tidak akan masuk riwayat browser dan tidak meninggalkan jejak lain seperti cookie di komputer tersebut, setelah semua jendela tamu ditutup. Unduhan tetap disimpan, sama seperti incognito.
Dua kalimat di atas terdengar mirip. Bedanya baru kelihatan setelah saya cek ke dokumentasi resminya.
Tiga hal yang akhirnya membuat saya memilih mode tamu Chrome
1. Incognito masih berada di dalam profil pemilik komputer
Ini perbedaan intinya, dan sisanya mengikuti dari sini. Incognito itu jendela khusus di dalam profil Chrome yang sedang dipakai. Mode tamu bukan jendela khusus, melainkan profil kosong yang terpisah.
Google menulisnya cukup tegas di halaman bantuan mode tamu: di mode tamu, kita tidak akan menemukan dan tidak bisa mengubah informasi profil Chrome mana pun yang lain. Untuk saya yang sedang menumpang komputer orang, kalimat itu berlaku dua arah, dan dua-duanya saya butuhkan.
2. Ekstensi milik pemilik komputer tidak ikut jalan
Bagian ini yang paling membuat saya tenang. Ekstensi browser punya izin membaca isi halaman yang sedang dibuka. Perekam layar, pengelola sandi, penerjemah, alat tangkapan layar, semuanya bekerja dengan cara itu.
Di Chrome, ekstensi memang tidak otomatis aktif di incognito. Tapi pemilik komputer bisa menyalakannya satu per satu lewat pengaturan Allow in incognito. Kalau itu pernah dilakukan, ekstensi tersebut ikut hidup juga di jendela incognito saya.
Jujur saja, saya tidak mungkin memeriksa daftar ekstensi di laptop orang lain satu per satu, apalagi di kantor customer. Justru karena tidak bisa memeriksa, saya pilih mode yang tidak memuat ekstensi sama sekali. Di mode tamu tidak ada profil yang dimuat, jadi tidak ada ekstensi yang ikut.
3. Bookmark dan data profil pemilik tidak ikut terlihat
Ini terdengar sepele tapi pengaruhnya dua arah. Di incognito, bookmark bar pemilik komputer masih ada di layar saya. Di mode tamu, yang muncul cuma halaman kosong.
Artinya saya tidak perlu melihat apa pun milik pemilik komputer, dan sebaliknya tidak ada kolom isian yang mencoba mengisi sendiri dengan data orang lain saat saya mengetik. Untuk urusan menumpang komputer, memisahkan dua sisi ini jauh lebih enak.
Yang tidak bisa disembunyikan oleh keduanya
Bagian ini perlu saya tulis supaya tidak ada yang salah paham, termasuk saya sendiri dulu.
- Pemilik jaringan tetap melihat alamat situsnya. Kalau saya memakai WiFi kantor customer, admin jaringan di sana tetap bisa tahu ada perangkat yang membuka alamat tertentu. Yang tidak mereka lihat adalah isi pesan dan sandi saya, karena itu sudah terenkripsi.
- Penyedia internet juga begitu. Chrome sendiri menuliskannya di layar incognito, jadi ini bukan tafsiran saya.
- File yang saya unduh tidak ikut terhapus. Dua layar tadi sama-sama menyebut ini. Jadi kalau sempat mengunduh lampiran, hapus manual dari folder Downloads, lalu kosongkan Recycle Bin.
- Kalau komputernya memang sudah disusupi, tidak ada mode browser yang menolong. Google sendiri mengingatkan bahwa pemilik perangkat masih mungkin memperoleh akses ke aktivitas kita lewat jalur di luar browser. Mode tamu memperkecil jejak di dalam Chrome, bukan menjadikan kita tidak terlihat.
Patokan saya sekarang sederhana. Kalau komputernya benar-benar tidak saya percaya, saya tidak login sama sekali dan cukup pakai HP sendiri. Mode tamu itu untuk kondisi di tengah, yaitu komputer yang wajar tapi bukan milik saya.
Cara saya menutup sesinya supaya benar-benar bersih
Membuka mode tamu itu bagian gampangnya. Menutupnya yang sering asal-asalan, dan di sini saya sempat salah.
- Keluar dulu dari akunnya, baru tutup jendelanya. Ini urutan yang dulu saya balik. Menutup jendela memang menghapus cookie di komputer itu, tapi di sisi akun saya, perangkat tadi bisa tetap tercatat sebagai perangkat tertaut. Jadi saya logout dari WhatsApp Web dan dari email lebih dulu.
- Cek ulang dari HP. Di WhatsApp HP saya buka menu perangkat tertaut, lalu pastikan perangkat tadi sudah tidak ada di daftar. Kalau masih ada, saya keluarkan dari situ.
- Tutup semua jendela tamu, bukan cuma satu tab. Chrome baru membersihkan jejaknya setelah seluruh jendela mode tamu ditutup. Kalau masih ada satu jendela tamu yang nyangkut di belakang, pembersihannya belum jalan.
- Bersihkan folder Downloads kalau sempat mengunduh. Lalu kosongkan Recycle Bin, karena menghapus saja tidak cukup.
Langkah pertama itu yang paling sering terlewat. Cookie di komputer orang memang sudah hilang, tapi kalau perangkatnya masih terdaftar di akun kita, urusannya belum selesai.
Kapan incognito justru lebih enak dipakai
Bukan berarti incognito jadi tidak berguna. Di laptop sendiri, saya justru lebih sering memakai incognito.
Alasannya sama persis dengan alasan saya menghindarinya di komputer orang: incognito masih berada di dalam profil saya. Bookmark saya masih ada, ekstensi yang saya izinkan masih jalan, dan saya tidak perlu mengetik ulang apa-apa. Untuk membuka akun kedua, atau membuka satu halaman tanpa ikut masuk riwayat, itu sudah cukup.
Mode tamu justru merepotkan di laptop sendiri, karena semuanya kosong. Jadi menurut saya pertanyaannya bukan mana yang lebih bagus, melainkan komputer siapa yang sedang dipakai.
Kesimpulan yang saya pakai sekarang
Di komputer orang lain, saya pakai mode tamu. Profilnya terpisah, ekstensi pemilik komputer tidak ikut jalan, dan tidak ada data profil siapa pun yang saling kelihatan. Di laptop sendiri, incognito sudah lebih dari cukup dan lebih praktis.
Kalau kalian punya cara lain yang lebih rapi untuk menumpang komputer orang, saya senang kalau mau berbagi lewat halaman kontak. Rincian resmi kedua fitur ini bisa dibaca langsung di halaman bantuan incognito milik Google.