Apa perbedaan HDD dan SSD?

Pengalaman memilih antara HDD dan SSD

Belakangan ini, saya sering merakit PC. Dalam proses merakit ini, dari sisi penyimpanan, kita sering dihadapkan dengan dua pilihan, yaitu HDD (Hard Disk Drive) dan SSD (Solid State Drive). Ternyata keduanya punya perbedaan yang signifikan dan masing-masing juga punya kelebihan tersendiri.

Perbedaan itu baru benar-benar terasa buat saya setelah dua kejadian di kantor. Yang pertama, HDD bekas yang saya pasang di PC kantor mulai berbunyi bip dan bergetar di bulan kedua, sampai akhirnya saya ganti dengan SSD. Yang kedua, SSD milik seorang karyawan rusak tiba-tiba tanpa tanda apa pun, dan datanya hilang total.

Jadi saya mulai dari cerita HDD yang berbunyi tadi, lengkap dengan foto dan rekaman suaranya. Setelah itu baru perbedaan HDD dan SSD yang menurut saya paling berpengaruh saat merakit PC: fungsinya, ukuran fisiknya, lalu tabel ringkasan di bagian akhir.

Kerusakan dini pada HDD lebih mudah dideteksi daripada SSD

Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Saya menggunakan HDD 3,5 inci pada salah satu PC di kantor yang saya rakit, untuk penyimpanan file-nya.

HDD Seagate BarraCuda 500 GB ukuran 3,5 inci buatan Juli 2019 yang mulai berbunyi bip dan bergetar di PC kantor, nomor seri disamarkan
Foto HDD yang saya gunakan, Seagate BarraCuda 500 GB buatan Juli 2019. Nomor seri dan kode QR-nya saya samarkan.

HDD ini aslinya memang HDD copotan dari PC yang rusak. Saya gunakan karena kebetulan masih berfungsi. Satu bulan sejak perakitan selesai, PC bekerja dengan baik, tidak ada tanda kerusakan komponen apa pun.

Singkat cerita, di pertengahan bulan kedua, proses pindah data mulai semakin lama. Ditambah ada suara bip dan getar yang muncul berkala dan semakin intens ketika proses pindah data sedang berjalan.

Suaranya seperti rekaman berikut:

Rekaman 37 detik dari HP saya di dekat PC tersebut. Volumenya saya naikkan supaya bunyinya terdengar jelas.

Untuk kalian yang sedang tidak bisa menyalakan suara: yang terdengar di rekaman itu dengung motor yang terus-menerus, lalu kira-kira setiap empat detik ada hentakan pendek disertai bunyi bip kecil. Pola yang berulang teratur seperti ini.

Saya coba cari dari mana asal suara dan getarannya, ternyata mengarah pada HDD itu. Suara bip dan getar ditambah proses pindah data yang mulai lama adalah salah satu tanda kerusakan pada HDD.

Maka saya coba ganti dengan SSD berukuran 2,5 inci setelah melakukan backup datanya. Ternyata diagnosis saya benar, suara bip dan getar itu hilang total.

SSD SATA RX7 Apocalypse 256 GB ukuran 2,5 inci yang dipakai sebagai pengganti HDD, nomor seri disamarkan
Foto SSD yang saya gunakan sebagai pengganti, RX7 256 GB SATA. Nomor serinya juga saya samarkan.

Kapasitasnya memang lebih kecil, 256 GB dari sebelumnya 500 GB, jadi kalau kalian mau melakukan hal yang sama, cek dulu apakah data kalian muat.

Saya ingat bahwa pernah juga ada kejadian SSD milik karyawan kantor rusak tiba-tiba. Tidak terdeteksi. Karena tidak ada tanda apa pun, maka datanya belum di-backup sama sekali. Semuanya hilang total.

Dua kejadian ini membuat saya menyimpulkan bahwa dari segi deteksi kerusakan dini, HDD lebih unggul. Sehingga kalau kita menggunakan HDD, kemungkinan kehilangan data bisa diminimalkan, karena biasanya masih ada waktu untuk memindahkan data sebelum HDD benar-benar mati.

Tapi dua kejadian tetap dua kejadian, dan tidak semua HDD sempat memberi tanda sebelum mati. Pelajaran yang saya ambil untuk SSD bukan berarti jangan pakai SSD, melainkan jangan menunggu tanda. Ada dua kebiasaan yang sekarang saya pakai untuk HDD maupun SSD. Pertama, backup rutin data penting ke tempat lain. Kedua, sesekali cek kondisi kesehatan disk lewat data S.M.A.R.T. dengan aplikasi gratis seperti CrystalDiskInfo. SSD memang jarang berbunyi, tapi dari data ini sisa umur dan jumlah blok yang rusak masih bisa terbaca sebelum terlambat.

HDD ideal untuk penyimpanan data besar, SSD ideal untuk OS, program, aplikasi, dan booting

Keduanya sama-sama bisa digunakan untuk penyimpanan. Tapi masing-masing punya keunggulannya tersendiri.

Yang cocok untuk menggunakan HDD

Untuk penyimpanan data statis dalam jumlah besar, HDD lebih cocok. Kenapa? Contohnya untuk menyimpan file gambar, foto, video, dan dokumen office seperti Excel, Word, atau PDF, kita tidak membutuhkan kecepatan baca tulis acak yang tinggi dan tidak membutuhkan latensi rendah. Jadi untuk menyimpan file-file ini, menggunakan HDD sudah cukup.

Kalau tetap mau menggunakan SSD? Bisa saja. Tapi modal yang dikeluarkan pasti lebih besar. Untuk apa mengeluarkan biaya lebih mahal untuk SSD kalau menggunakan HDD sudah cukup? Ini justru salah satu celah pengiritan dalam merakit PC.

Yang cocok untuk menggunakan SSD

Sedangkan untuk menyimpan OS, aplikasi, dan program, penggunaan HDD sangat tidak disarankan. Kenapa? HDD harus memutar piringannya, memindahkan head ke posisi data, lalu menunggu data berada di bawah head. Kalau data dari OS, aplikasi, dan programnya tersebar, head harus bergerak bolak-balik. Itu membuat proses seperti booting, membuka aplikasi, update, dan pemindaian antivirus menjadi lambat.

Sedangkan SSD tidak punya head atau piringan. Data diakses langsung dari chip memori, jadi latensinya lebih rendah, baca tulis acaknya jauh lebih cepat, tidak ada waktu tunggu head bergerak, dan sistem terasa lebih responsif. Itulah kenapa SSD lebih cocok digunakan untuk menyimpan OS, aplikasi, dan program.

Ukuran fisik HDD lebih besar dari SSD

HDD cenderung memiliki ukuran fisik yang lebih besar, biasanya 3,5 inci untuk PC. Jadi dalam hal merakit PC, kalau casing PC yang digunakan kecil, menempatkan HDD di dalamnya akan jadi kesulitan tersendiri. Sedangkan SSD SATA untuk PC biasanya berukuran 2,5 inci, bentuknya kecil dan tipis. Penempatannya mudah diselipkan di dalam casing PC, apalagi PC yang memakai casing kecil.

Ada juga SSD jenis M.2 yang bentuknya seperti batang permen karet dan langsung ditancapkan ke motherboard, jadi sama sekali tidak butuh tempat di casing. Tapi pastikan dulu motherboard kalian punya slot M.2 sebelum membelinya.

Satu hal supaya tidak tertukar: yang dimaksud di sini ukuran fisiknya. Dari sisi kapasitas, justru HDD yang biasanya lebih besar untuk harga yang sama.

Ringkasan perbedaan HDD dan SSD

Kalau diringkas, perbedaan HDD dan SSD bisa dilihat di tabel berikut:

Aspek HDD SSD
TeknologiMenyimpan data di piringan magnetMenyimpan data di chip memori flash
Komponen bergerakAda: piringan, motor, dan headTidak ada
KecepatanLebih lambatJauh lebih cepat
BunyiBisa berbunyi klik dan bergetarHampir senyap
Tahan benturanLebih rentanLebih tahan
Harga per kapasitasLebih murahLebih mahal
Tanda kerusakan awalSering ada: bunyi dan getaran berlebihJarang: sering senyap, bisa tiba-tiba tidak terdeteksi
Ideal untukPenyimpanan data besarOS, program, dan booting PC

Kesimpulan

HDD dan SSD akan jadi bermanfaat kalau kita tahu kapan harus menggunakannya. Tidak ada istilah bagusan mana atau jelekan mana. Masing-masing dari dua barang itu bisa disatukan dalam satu sistem dengan fungsi yang saling melengkapi. Kalau budget terbatas, kombinasi yang paling masuk akal menurut saya adalah SSD berkapasitas kecil untuk OS dan program, lalu HDD untuk menyimpan data.

Tinggalkan komentar